Depkes.go.id - Musim hujan telah tiba, masyarakat diminta waspada terhadap Demam Berdarah Dengue. Untuk mengindari penyakit yang belum ada obat maupun vaksinnya ini, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan jentik nyamuk dengan 3M Plus (mengubur, menguras dan menutup plus hindari gigitan nyamuk).
Demikian pesan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama berkaitan peningkatan kasus DBD di berbagai daerah serta datangnya musim hujan di Jakarta, 4 Desember 2009.
Menurut Dirjen P2PL, sejak Januari – Oktober 2009, Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menelan 1.013 korban jiwa dari total penderita sebanyak 121.423 orang (CFR: 0,83). Jumlah ini meningkat dibandingkan periode tahun 2008 yaitu 953 orang meninggal dari 117.830 kasus (CFR: 0,81). Jangan tunggu jatuh banyak korban lagi, lakukan 3 M Plus secara bersama-sama.
Dari kasus yang dilaporkan selama tahun 2009, tercatat 10 provinsi yang menunjukkan kasus terbanyak, yaitu Jawa Barat (29.334 kasus 244 meninggal), DKI Jakarta (26.326 kasus 33 meninggal), Jawa Timur (15.362 kasus 147 meninggal), Jawa Tengah (15.328 kasus, 202 meninggal), Kalimantan Barat (5.619 kasus, 114 meninggal), Bali (5.334 kasus, 8 meninggal), Banten (3.527 kasus, 50 meninggal), Kalimantan Timur (2.758 kasus, 34 meninggal), Sumatera Utara (2.299 kasus, 31 meninggal), dan Sulawesi Selatan (2.296 kasus, 20 meninggal), ujar Prof. Tjandra.
Beberapa provinsi yang mengalami peningkatan kasus dibandingakan tahun 2008 adalah Jambi, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Papua.
Korban akibat DDB diperkirakan terus bertambah terutama pasca banjir, pergantian musim, dan pada waktu curah hujan jarang terjadi dimana banyak penampungan air seperti vas bunga, tendon air/ water toren, bak mandi, tempayan serta ban bekas, kaleng bekas, botol minuman bekas dan sebagainya yang dekat dengan lingkungan pemukiman penduduk tidak dibersihkan, sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti penular DBD.
Nyamuk ini juga menularkan penyakit Chikungunya yang menyerang otot-otot dan menimbulkan nyeri berat. Menggigit pada siang hari dengan waku efektif 2 jam setelah matahari terbit (pukul 08.00 12.00 dan beberapa jam setelah matahari tenggelam (pukul 15.00 – 17.00). Setelah digigit nyamuk, antara 3 – 14 hari kemudian atau biasanya 4 – 7 hari akan menunjukkan gejala atau tanda-tanda DBD. Penyakit ini dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti, yaitu menggunakan obat nyamuk oles (repellent), menggunakan kelambu bila tidur siang, dan usir nyamuk dengan obat nyamuk bakar/ semprot baik di dalam maupun di luar rumah pada pagi dan sore hari.
Tanda atau gejala DBD yang muncul seperti bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu suhu badan lebih dari 38OC, badan terasa lemah dan lesu, gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat, nyeri ulu hati, dan muntah. Dapat pula disertai pendarahan seperti mimisan dan buang air besar bercampur darah serta turunnya jumlah trombosit hingga 100.000/mm3. Tidak perlu menunggu semua gejala ini muncul, bila menemukan beberapa tanda segera periksakan ke dokter atau sarana kesehatan terdekat.
Pertolongan pertama pada penderita dapat dilakukan dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya (air masak, air dalam kemasan, air teh, dsb), mengompreskan air dingin pada penderita, serta memberikan obat penurun panas. Bila ada riwayat kejang, berikan obat anti kejang.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.
Baca Selengkapnya..
Tampilkan postingan dengan label Perubahan Cuaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perubahan Cuaca. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Desember 2009
Jumat, 24 Juli 2009
Waspada Diare dan Influenza di Musim Kemarau
Republika Newsroom - TEDUH: Meskipun udara panas, jangan sampai mengganggu stamina tubuh Anda. Gunakan payung atau topi agar Anda tak langsung terkena paparan sinar matahari.
YOGYAKARTA-- Memasuki musim kemarau, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY dr Bodan Agus Suryanto, SE, MA menghimbau masyarakat DIY untuk mewaspadai sejumlah penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sejumlah penyakit pada musim kemarau, terutama influenza dan diare.
''Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika mengalami gejala batuk dan pilek. Pasalnya, musim kemarau tahun ini tiba bersamaan dengan merebaknya influenza A-H1N1 di DIY,''tutur dia di kantornya, Kamis (23/7).
Ia menjelaskan saat perubahan cuaca, batuk pilek dan infuenza cukup banyak berkembang. Apalagi sekarang ada flu babi (influenza A H1N1), masyarakat perlu waspada. Kalau influenza yang biasa bisa cepat sembuh.
Selain flu, masyarakat juga perlu mewaspadai timbulnya diare terutama bagi bayi dan balita (di bawah lima tahun). Bagi orang dewasa, penyakit diare tidak terlalu menimbulkan masalah. Bagi bayi dan balita, diare termasuk penyakit yang mematikan. Karena Balita belum memiliki kekebalan tubuh sekuat orang dewasa, sehingga sangat rentan terhadap penyakit.
Bahkan ia menambahkan, diare termasuk pembunuh nomor satu bagi balita dan bayi. Ia menjelaskan berdasarkan catatan tahun 2008 tingkat kematian balita akibat diare mencapai 20 persen dari total penderita. Persentase itu setara dengan 19/1000 angka kelahiran bayi. Sementara, dari tahun ke tahun, angka kematian dan tingkat penderita diare terus berfluktuasi.
Selain balita, kelompok yang rentan terhadap penyakit pada musim kemarau adalah lansia (lanjut usia) yang telah mengidap penyakit seperti diabetes dan hipertensi serta seseorang yang sering bepergian jauh. Menurut dia, orang yang sering bepergian jauh berpotensi tertular dan menularkan penyakit tertentu.
Yang juga perlu diwaspadai pada musim kemarau ini apabila masyarakat mengonsumsi makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Pada musim kemarau, jajanan itu rawan terkena debu yang dapat menimbulkan penyakit hepatisis A.
Karena itu dalam menghadapi musim kemarau ini masyarakat harus menjaga kondisi tubuh dan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat)seperti mencuci tangan dengan sabun, untuk mencegah tertular dari berbagai penyakit. (nri/rin)
Baca Selengkapnya..
YOGYAKARTA-- Memasuki musim kemarau, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY dr Bodan Agus Suryanto, SE, MA menghimbau masyarakat DIY untuk mewaspadai sejumlah penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sejumlah penyakit pada musim kemarau, terutama influenza dan diare.
''Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika mengalami gejala batuk dan pilek. Pasalnya, musim kemarau tahun ini tiba bersamaan dengan merebaknya influenza A-H1N1 di DIY,''tutur dia di kantornya, Kamis (23/7).
Ia menjelaskan saat perubahan cuaca, batuk pilek dan infuenza cukup banyak berkembang. Apalagi sekarang ada flu babi (influenza A H1N1), masyarakat perlu waspada. Kalau influenza yang biasa bisa cepat sembuh.
Selain flu, masyarakat juga perlu mewaspadai timbulnya diare terutama bagi bayi dan balita (di bawah lima tahun). Bagi orang dewasa, penyakit diare tidak terlalu menimbulkan masalah. Bagi bayi dan balita, diare termasuk penyakit yang mematikan. Karena Balita belum memiliki kekebalan tubuh sekuat orang dewasa, sehingga sangat rentan terhadap penyakit.
Bahkan ia menambahkan, diare termasuk pembunuh nomor satu bagi balita dan bayi. Ia menjelaskan berdasarkan catatan tahun 2008 tingkat kematian balita akibat diare mencapai 20 persen dari total penderita. Persentase itu setara dengan 19/1000 angka kelahiran bayi. Sementara, dari tahun ke tahun, angka kematian dan tingkat penderita diare terus berfluktuasi.
Selain balita, kelompok yang rentan terhadap penyakit pada musim kemarau adalah lansia (lanjut usia) yang telah mengidap penyakit seperti diabetes dan hipertensi serta seseorang yang sering bepergian jauh. Menurut dia, orang yang sering bepergian jauh berpotensi tertular dan menularkan penyakit tertentu.
Yang juga perlu diwaspadai pada musim kemarau ini apabila masyarakat mengonsumsi makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Pada musim kemarau, jajanan itu rawan terkena debu yang dapat menimbulkan penyakit hepatisis A.
Karena itu dalam menghadapi musim kemarau ini masyarakat harus menjaga kondisi tubuh dan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat)seperti mencuci tangan dengan sabun, untuk mencegah tertular dari berbagai penyakit. (nri/rin)
Baca Selengkapnya..
Jumat, 03 Juli 2009
Perubahan Cuaca Berpotensi Munculkan Migren
Kapanlagi.com - Bagi sejumlah orang, perubahan cuaca bisa menjadi pemicu datangnya sakit kepala akut atau migrain. Karena mernurut Dr Patricia Prince dari New England Center for Headcache di Stamford, perubahan cuaca juga bisa merubah kebiasaan pola hidup termasuk ketidakmampuan tidur dan berdampak pada penyakit lainnya.
Para ilmuwan melakukan penelitian yang mendalam mengenai dampak udara yang ditengarai menjadi pemicu migrain. Menurut temuan Boston's Children's Hospital, hampir setengah dari populasi mengalami sakit kepala yang akut karena perubahan cuaca. Dari catatan Dr Prince dalam the journal Headcache mereka kebanyakan mengalami kenaikan suhu badan dan beraksi atas perubahan tekanan udara.
Dr Prince mengatakan dengan hasil penelitian ini maka dampak pengaruh cuaca pada migrain bisa diperhitungkan. Sementara penelitian lain juga memberikan hasil yang hampir sama. Penelitian Dr Patricia Prince dari the New England Center for Headache di Stamford melibatkan 77 orang yang mengunjungi klinik migrain.
Kepada setiap pasien, Dr Prince bertanya dalam sebuah form standard seperti seberapa berat migrain yang mereka alami dan kebanykan dari pasien merasa yakin bahwa migrain yang mereka dapat sangat erat berhubungan dengan perubahan cuaca. Dari kuesioner itu, Dr Price mengukur suhu udara ketika setiap harinya dimana sang pasien migrain tinggal.
Secara keseluruhan 48 pasien atau 62% persen merasa yakin bahwa cuaca menjadi penyebab utama mereka terkena migrain. Ketika Dr Price melakukan pengkuran dihari dimana pasien mengalami migrain, mereka menemukan hanya 39 pasien atau 51% yang benar-benar bermasalah ketika terjadi perubahan cuaca.
Sementara yang lainya merupakan kombinasi dari tinggi/rendahnya temperatur dengan kelembaban udara. Sejumlah orang sensitif atas perubahan tingginya udara sementara yang lain bermasalah dengan rendahnya kelembahan. Sensitifitas perubahan itu terjadi dalam satu atau dua hari.
Dalam kebanyakan hasus, klaim pasien yang menyalahkan perubahan udara sebagai penyebab migrain tidaklah tepat. Tidak peduli apakah pasien itu muda atau tua atau jenis kelaminya pria atau wanita. "Melakukan identifikasi mengenai faktor pemicu sangatlah penting untuk menanggulangi masalah selanjutnya," ujar Bagi Dr Anne MacGregor dari the City of London Migraine Clinic. (mydoc/tutut)
Baca Selengkapnya..
Para ilmuwan melakukan penelitian yang mendalam mengenai dampak udara yang ditengarai menjadi pemicu migrain. Menurut temuan Boston's Children's Hospital, hampir setengah dari populasi mengalami sakit kepala yang akut karena perubahan cuaca. Dari catatan Dr Prince dalam the journal Headcache mereka kebanyakan mengalami kenaikan suhu badan dan beraksi atas perubahan tekanan udara.
Dr Prince mengatakan dengan hasil penelitian ini maka dampak pengaruh cuaca pada migrain bisa diperhitungkan. Sementara penelitian lain juga memberikan hasil yang hampir sama. Penelitian Dr Patricia Prince dari the New England Center for Headache di Stamford melibatkan 77 orang yang mengunjungi klinik migrain.
Kepada setiap pasien, Dr Prince bertanya dalam sebuah form standard seperti seberapa berat migrain yang mereka alami dan kebanykan dari pasien merasa yakin bahwa migrain yang mereka dapat sangat erat berhubungan dengan perubahan cuaca. Dari kuesioner itu, Dr Price mengukur suhu udara ketika setiap harinya dimana sang pasien migrain tinggal.
Secara keseluruhan 48 pasien atau 62% persen merasa yakin bahwa cuaca menjadi penyebab utama mereka terkena migrain. Ketika Dr Price melakukan pengkuran dihari dimana pasien mengalami migrain, mereka menemukan hanya 39 pasien atau 51% yang benar-benar bermasalah ketika terjadi perubahan cuaca.
Sementara yang lainya merupakan kombinasi dari tinggi/rendahnya temperatur dengan kelembaban udara. Sejumlah orang sensitif atas perubahan tingginya udara sementara yang lain bermasalah dengan rendahnya kelembahan. Sensitifitas perubahan itu terjadi dalam satu atau dua hari.
Dalam kebanyakan hasus, klaim pasien yang menyalahkan perubahan udara sebagai penyebab migrain tidaklah tepat. Tidak peduli apakah pasien itu muda atau tua atau jenis kelaminya pria atau wanita. "Melakukan identifikasi mengenai faktor pemicu sangatlah penting untuk menanggulangi masalah selanjutnya," ujar Bagi Dr Anne MacGregor dari the City of London Migraine Clinic. (mydoc/tutut)
Baca Selengkapnya..
Langganan:
Postingan (Atom)